Poligami Lagi
Sunday, April 27, 2008

Allah pernah berfirman bahwa Al-Quran adalah mukjizat yang paling hebat. Artinya setiap ayat memiliki arti tersurat dan arti tersirat. Di sisi siratan ini lah banyak ilmu biologi, matematika, fisika dan kimia yang terpendam. Sejauh ini gua berhasil nemu artikel dari scientist dan dokter yang berhasil mensistesiskan siratan itu untuk menjawab kenapa babi itu haram, bahwa di balik surat al kahfi adalah rumus e=mc2 yang ditemukan Einstein. Kenapa wanita tidak boleh ML ketika haid, kenapa kita harus disunat, dan lainnya.

Sekarang poligami. Kemarin waktu di Indonesia gua bertemu beberapa teman dan berdiskusi tentang film ayat-ayat cinta dan buntut-buntutnya ngomongin poligami lagi. Awalnya gua bingung kenapa Islam yang katanya agama keadilan membolehkan poligami. Gua mikir, kalo poligami itu dibolehkan, baiklah kita akan turuti. Tapi kita harus cari tahu kenapa boleh? Ini yang sejauh ini gua tahu.

Poligami di jaman batu
Dari jaman nabi Sith, rasul Nuh, rasul ibrahim dan seterusnya, Allah melarangkan menyembah berhala dan memberikan larangan lainnya, tapi tidak unutk poligami. Bahkan dalam kasus rasul Ibrahim, dia mengawini Sarah dan Siti Hajar yang kemudian melahirkan rasul Ishak (cikal bani israil - yahudi) dan Ismail (cikal bangsa arab). Intinya, poligami dari dulu itu, boleh.

Sekarang mari kita lihat kondisi umat manusia di jaman batu di saat manusia masih menjadi hunter dan nomadic. Di saat ini, kelangsungan hidup klan adalah segalanya. Mereka hidup dan mati berkelompok dan berjuang mati-matian mempertahankan kelangsungan darah klan mereka. Pandangan kita pada umumnya akan manusia gua adalah secara brutal merebut wanita sembarangan dan menggaulinya. Kalo gua bilang ini pandangan yang salah.

Kita sebut saja 15 keluarga yang menamakan diri mereka son of sam. Samson. Pria-pria Samson pergi berburu. Secara instingtif, peran mereka sebagai pencari nafkah membuat mereka berburu. Kenapa wanita tidak berburu? Karena lemah? Gua liatnya bukan lemah tapi karena di jaman ini anak kecil sangat bergantung pada ibunya untuk asi dan penjagaan. Akhirnya wanita tinggal di gua bersama anak. Mereka bias saja membawa anaknya ikut berburu tapi lantas sang anak akan menangis dan tangisan bayi itu akan membuat para mammoth kabur. So, wanita tinggal di gua bersama anak.

Tinggal lah pria berburu. Pria berburu berkelompok karena menangkap mangsa adalah pekerjaan yang paling berbahaya. Tidak jarang dari 15 suami yang pergi, akan ada yang tertanduk, ada yang terinjak dan ada yang balik terburu. Pulang berburu, tinggal 10 suami dan klan Samson memiliki 5 janda yang harus mereka urus.

Lain waktu 10 suami ini kembali berburu. Tewas 3 dan jumlah janda dan yatim piatu bertambah menjadi 8. Klan Samson akan berpikir janda-janda ini selalu bisa mereka santuni sampai tua dan mati. Tapi jika tidak dinikahi, klan mereka akan mati. Tidak akan berlanjut. Akhirnya, 7 suami yang tersisa menikahi 8 janda itu untuk melangsungkan survivility mereka.

Inti dari analisis di atas adalah, poligami dilakukan manusia dan tidak dilarang dari awal kehidupan manusia karena dibutuhkan untuk melawan factor alam yang kejam. Di kala itu, alam adalah musuh semua klan yang membunuh pria lebih cepat dari wanita. Tidak adanya poligami akan membuat nenek moyang kita punah dari dulu.

Poligami di Jaman Rasul
Sekarang kita pergi ke jaman Rasul. Era di mana Al-Quran benar-benar menurunkan secara tersurat bahwa poligami dibolehkan. Untuk yang satu ini gua akan berhati-hati dan mengikutkan analisis Karen Armstrong. Pada saat Muhammad menjadi rasul di tanah arab, jazirah itu terpecah oleh puluhan klan yang saling berperang. Dia sendiri diutus sebagai Rasul penutup umat manusia. Islam harus berhasil tersebar. Penyebaran ini tidak akan berhasil jika dia dimusuhi klan lain dan yang lebih parah, semua klan saling bermusuhan. Perlu adanya kestabilan regional untuk membolehkan islam berkembang.

Ikatan bisnis tidak berhasil karena Rasul efektif kehilangan semua kliennya ketika dia mulai menjadi rasul. Padahal sebelum menjadi rasul beliau adalah saudagar yang kaya. Yang mas kawinnya saja untuk Khadijah ratusan unta. Sebagai pembanding, harga satu unta = hargsa satu sapi. Coba liat harga sapi sekarang berapa dan kalikan 200. Nah itu adalah harga mas kawin yang Rasul berikan pada Khadijah. Bukti bahwa Rasul entrepreneur yang hebat dari sebelum kerasulannya.

Akhirnya dia memakai poligami. Dia menikahi anak dari beberapa kepala suku dan orang penting di Madinah dan di Mekah. Ini membuat sang kepala suku tidak berkutik. Kalo Madinah dia serang, anaknya sendiri sudah efektif ada di samping Muhammad. Jadi suku ini tidak berani menyerang jika mereka ingin. Dia menikahi anak dari Abu Bakar, seorang pria terpandang di Mekah. Dia juga menikahi anak dari Umar, pria yang paling ditakuti di Mekah. Keduanya adalah orang penting yang dari awal, Rasul telah berhasil sekutukan. Setelah itu baru beberapa kepala suku. Nelakangan seorang kalifah dari mesir malah mengirimkan seorang budak sebagai hadiah untuk rasul sebagai tanda perdamaian. Rasul sendiri berpikir, jika tawaran istri ini dia tolak, kalifah itu bisa kecewa dan tidak menerima Islam. Akhirnya dia nikahi budak mesir ini.

Sekilas ini menggambarkan betapa rasul adalah orang yang oportunis. Sama sekali tidak. Bayangkan saja, kepada dia Allah berfirman bahwa dia adalah rasul penutup dari semua nabi dan rasul. Itu tugas yang maha berat. Sebaga perbandingan, Rasul Luth diwahyukan menolong kaum Sodomnya. Rasul Yusuf diwahyukan menolong kaum kaum mesir. Rasul Muhammad diwahyukan untuk menyampaikan pesan Allah kepada seluruh umat manusia di muka bumi ini. Kerjanya jauh lebih berat. Dia tahu dari awal bahwa this has to work.
This has to work.
This has to work.
Dan menikahi anak dari orang-orang penting adalah langkah yang menstabilkan siatuasi.

Perang di jaman rasul juga meninggalkan banyak janda. Orang bisa bilang, jangan dipoligami santuni saja janda-janda itu. Tapi Rasul malah memberi contoh dengan cara mengawini mereka. Tidak hanya disantuni, tapi dicintai dan diwarisi juga. Kenapa? Untuk analisisnya gua coba perlihatkan perbandingan di bawah

Poligami di Jaman Perang Salib (1100-1400)
Perang salib adalah masa di mana umat nasrani dan Islam berperang memperebutkan Jerusalem. Di saat ini banyak orang yang meninggal. Mari kita ambil contoh 2 saudagar muda dan 2 janda.

Di Palermo ada orang kaya bernama Roger (beranak 1) dan janda miskin bernama Maria (beranak 2).
Di Siria ada orang kaya bernama Al-Rujari (beranak 1) dan Siti Maryam (beranak 2).

Roger dan Rujari baru saling berperang di Jerusalem dan keduanya pulang ke masing-masing Palermo dan Siria. Kondisi perang ini menyebabkan demografi Palermo dan siria tidak imbang di mana ada 1 pria untuk 12 wanita.

Roger mengabarkan pada Maria bahwa suaminya meninggal.
Rujari mengabarkan pada Maryam hal yang sama.

Agama Roger tidak membolehkan poligami. Agama Rujari membolehkan poligami. Roger dan Rujari melihat di masing-masing kota mereka bahwa janda-janda yang kuat atau memiliki anak yang sudah besar, mampu membuka toko sendiri dan survive tanpa suami. Masalahnya, sebagian janda lagi adalah miskin. Maryam dan Maria beranak 2 masih kecil semua dan miskin. Karena agama di Palermo tidak mengizinkan Roger polgimasi, poligami, Maria rentan dan akhirnya terjerumus prostitusi. Anak-anak Maria dia berikan pada yatim piatu.

Suatu hari Roger bertemu dengan Maria di rumah bordil dan Maria hamil. Tapi Roger tidak bisa mengawininya. Selang berapa lama, Roger yang kaya meninggal meninggalkan warisan 1000 dinar. Berapa anak di Palermo yang beruntung? Jawaban: 1.

Hanya anak kandung Roger yang hidup dengan lancar di masa perang ini mewarisi 1000 dinar.
2 anak kandung Maria terpuruk dalam kemiskinan dan harus struggle untuk hidup.
Anak Maria-Roger hasil bordil juga harus survive seadanya.

Dari sini kita segera melihat kesenjangan sosial di antara 4 orang ini. Bayangkan dalam skala 1 kota. Bayangkan dalam skala 1 regional.

Rujari memutuskan untuk menikahi Maryam – ini dengan restu dari istri pertamanya. Dari pernikahan kedua ini, mereka memiliki 1 anak lagi. Selang berapa lama, Rujari meninggal meninggalkan warisan 1000 dinar. Berapa anak di Siria yang beruntung? Jawaban: 4.

Anak kandung Rujari mendapat sebagian dari 1000 dinar itu.
Anak kandung Maryam juga mendapat bagian meski tidak banyak. Tapi di masa perang yang sulit itu, mendapat warisan lumayan.
Anak silang Rujari-Maryam juga mendapat bagian warisan. Masing-masing memiliki modal untuk hidup dengan merata dan bertetangga.

Apa inti dari kejadian di atas? Intinya adalah bahwa poligami adalah hal yang manusiawi untuk dilakukan hanya dalam kondisi tertentu seperti perang. Ketika perang mulai mengganggu keseimbangan demografi ke level yang parah, di situlah poligami menjadi sesuatu yang lumrah untuk dilakukan. Banyak menfaatnya. Menghindarkan banyak pihak dari prostitusi. Meratakan kesejahteraan umat. Menyelamatkan orang dari jurang kemiskinan. Di masa ini, berpoligami adalah logis.

Poligami di masa kini
Sekarang kita lihat mas-mas di Indonesia yang istrinya sampai 3 di Indonesia. Entah otak gua yang gak nyampe sampe gak nemu logikanya atau gimana, tapi kan Indonesia gak perang. Indonesia gak kurang pria. Paling berapa sih kurangnya pria di Indonesia? Mungkin hanya 1:5. Kita lihat Somalia, Sierra Leone, Afghanistan, Irak, di sana banyak sekali desa yang suaminya meninggal semua sehingga dalam satu desa mungkin rasionya 1:15 atau bahkan 1:20. Ini ancaman serius bagi mereka. Ada 19 wanita yang tidak dapat jodoh dan ketika mati nanti, populasi mereka bisa susut. Iya kalo semua janda itu kaya dan mandiri. Kalo miskin, mereka bisa terjerat prostitusi dan lebih parah lagi, human trafficking. Itu adalah situasi yang sangat keji yang merupakan impact negative dari perang.

Makanya gua sih bersikukuh dengan apa yang gua bilang di postingan yang lalu. Kalo kita emang niat melaksanakan poligami sebagaimana Islam perbolehkan, kenapa gak niat aja sekalian pergi ke Irak. Tinjau desa yang paling parah dan pilih janda yang paling rapuh.

Kenapa ini tidak dilakukan oleh mas-mas Indonesia? Hell, kenapa ini tidak dilakukan oleh semua pelaku poligami di muka bumi ini? (Senegal, Maroko dan negara-negara arab secara legal membolehkan poligami)
Gak mau repot?

Gak punya uang? Kalo kuat beristri 2 kenapa gak kuat beli tiket ke Irak? Bukankah syarat mutlak poligami adalah kaya?

Sekali lagi, kalo cukup kaya untuk beristri 4, kenapa gak cukup kaya untuk beli tiket ke daerah perang?

Kalo ngerasa cukup pinter untuk poligami, kenapa yang kayak gini gak kepikiran? Wanita di Irak ada yang menjadi pelacur dan di Somalia ada terjerat human trafficking. Tapi pria di Indonesia dan di mana pun malah memperistri wanita-wanita lokal. Poligami yang mereka lakukan yang ngakunya adalah ibadah, nyata-nyata tidak menyelesaikan masalah-masalah kritis yang dialami muslimah di muka bumi yang berbeda.

Alasan-Alasan Berpoligami
Ada pelaku poligami yang pernah bilang dia berpoligami karena tidak ingin terjadi yang nggak-nggak. Maksudnya, daripada terjadi perselingkuhan dengan wanita kedua, mending dia peristrikan wanita kedua itu. Bagi gua pribadi, alasan seperti ini sama saja dengan berkata:
“Hello look at me, I’m too weak to control my penis so I took legal steps to marry another woman.”
Kalo gak mau terjadi perselingkuhan, kalo gak mau melakukan dosa, caranya gampang. Jangan lakukan dosa.

Ada pelaku poligami yang bilang bahwa poligami ditempuh untuk menutupi kekurangan dari istri pertama. Bagi gua pribadi ini juga lemah. Kayak sendirinya gak punya kekurangan aja.

Gua respek sama Aa gym. Gua aktif di milis DT dari tahun 1999-2001 dari mulai anggotanya cumin 300 sampe pas gua keluar milis itu udah 2000 anggota. Bahkan sampe dia sudah poligami pun gua masih respek kok. Aa Gym pernah bilang bahwa niat dia melakukan poligami adalah untuk mencari tahu kenapa agama membolehkannya. Dia berharap bahwa dengan menjalankannya, dia akan mengerti kenapa. Well, bukannya mau ngalahin atau bahkan ngajarin Aa Gym tapi dia kan mampu. Kalo dia mampu umrah tiap tahun, kenapa gak sekalian aja ke Irak dan cari istri di sana? Kenapa tidak mempelajari aspek sosio-historis dan sosio-kultur dari poligami seperti yang gua paparkan di atas? Kenapa bekas model yang dipilih dan bukan janda buntung dari dari Somalia yang dia pilih? Kalo mau mencintai, seharusnya fisik tidak masalah bukan?

Ini yang gua masalahin. Ini yang gua challenge. Yang jelas, ini adalah sudut pandang gua. Ini adalah hasil sintesis gua. Jujur aja ini either kajian gua akan poligami salah, atau kajian mereka yang salah. Jujur aja, gua pribadi miliki keyakinan yang cukup tinggi terhadap analisis gua di atas.

Gua sendiri, karena Islam memang membolehkan poligami, ya sudah gua setuju poligami. Tapi gua bener-bener pelajari dulu kenapa dan ajaran di baliknya. Kalo suatu saat komposisi di Indonesia sudah menggila, say 1:20 mungkin saat itu waktu yang baik menurut gue untuk orang-orang berkontemplasi untuk melakukan poligami. Sebelum kita mencapai level kronis itu, again menurut gua, either cari janda perang atau tidak usah lakukan sama sekali.

Nah, ini adalah kajian gua. Versi gua. Hasil pemikiran gua yang gua yakini benar. Waktu gua menyinggung poligami di postingan sebelumnya, ada beberapa santri yang mengecam gua dan menyuruh gua bertobat karena dikiranya gua gak pantes menganilisis ayat-ayat Al-Quran. Bahwa agama itu masalah keyakinan. Bagi gua pribadi, keyakinan gua bertambah setiap kali kita berhasil membuktikan kebenaran ayat-ayatnya. Gua mending hafal sedikit ayat tapi gua tahu benar kajian dan mukjizat di dalamnya ketimbang hafal Quran tapi gak mampu mensintesis apa-apa dari ayat-ayatnya. Keyakinan yang kosong tanpa bukti. Keyakinan yang kalo sampe harus berdebat dengan orang-orang di luar Islam, gak bisa jawab kenapa Islam menyuruh ini itu.

Penulis benar2 mengguinakan akalnya saja… Menurutku penulis hanya mau melakukan perintah agama kalau itu masuk di akal (nya), kalo ga; masuk akal dia ga’ mo baca (lihat penyataanya:”Bagaimana kita bisa mengerti apa yang Allah berusaha pesankan pada kita kalau kita gak ngerti bahasa arab dan gak berusaha membaca artinya? Umur gua 29 tahun dan baru di tahun 2007 lah gua berikrar, gua gak mau baca Qur'an
kalau gak baca artinya. Membaca Quran bagus, granted. Dapet pahala, granted. Tapi kalo gak baca artinya tetep aja pesan Allah terhambat di *translasi yang gua gak baca.* *)
Padahal siapa dia ? kyai bukan, ulama bukan, santri bukan, penuntut ilmu (ga’ tau juga), dia hanya comment dan menggunakan sebagaian besar akalnya yang bodoh (maaf). Dengan mengomentari ayat poligami benar2 menunjukkan kebodohan dia, apa dia lebih pintar dari Aa Gym ? Ato lebih alim dari sahabat2 Rasul, karena kalau alasan dia mengenai poligami seperti itu, sahabat Rasul pasti lebih mengetahui dan pasti bertanya kepada Rasul mengenai perkara ini...

Orang seperti ini mungkin juga tidak sholat dengan alasan dia belum tau makna sholat seperti apa... Ini sama seperti pemikiran orang2 Jaringan Islam Liberal (JIL) yang lebih memutar otak daripada melakukan ketaatan kepada Allah.

Agama adalah masalah keyakinan, kalo otak kita tidak bisa jangkau atau belum bisa jangkau itu masalah agama (ayat-ayat Allah) artinya kita harus mentaati saja. Itu artinya kita masih awam dan otak kita ga’ nyampe, bukan berarti ayat2 Allah salah...

Semoga yang menulis di blog itu diberi petunjuk dan segera bertobat kepada Allah.

Sekarang gua pengen tahu pendapat kalian ttg poligami ini.





Aldebaran 19 months
Monday, March 31, 2008



Dalam bahasa Inggris, daam hal anak umur di bawah 2 tahun ada istilah 'terrible two'. Ini merujuk kepada kondisi di mana anak di bawah 2 tahun itu luar biasa rewel.


Sebenernya kejadian ini wajar dalam beberapa artian,
Sejak seorang anak berada di atas 1 tahun,
  1. dia sebenernya udah tau apa yang dia mau. Tapi masalahnya otaknya belum canggih untuk mengartikulasikan apa yang dia mau dalam bentuk vokal. Jadi lah seorang anak ngomong gak jelas dan tiba-tiba kicking and screaming. Untungnya gua dan ninit ngerti hal ini cukup dini sehingga segimana rewelnya pun Alde kita coba untuk gak bentak dia. Lha wong dia sebenernya gak salah. Cuman frustrasi karena gak ada yang bisa ngerti maunya dia. Dan sebenernya maunya anak itu simple-simple kok. Minta ambilin sesuatu karena kita simpan terlalu tinggi. Hal-hal seperti itu.
  2. Ini adalah masa di mana dia eksperimen dan eksplorasi. Yang dia makan bedak lah, yang dia pergi ke kolong meja lah, yang dia obok-obok orange juice lah. yang nasi dia injek-injek lah. Sebenernya semuanya wajar. Lagi-lagi kita coba untuk gak marah sama alde.
Yang paling susah adalah melarang dia melakukan eksperimen dan eksplorasi. Satu sisi pengen kita larang karena makan bedak itu jelas salah. Sisi lain, kalo sampe kita larang terus, takutnya kita membunuh rasa ingin tahu dia dan tumbuh jadi anak yang pendiam dan tidak mau belajar.

Untuk menanggulangi ini gua dan Ninit melakukan beberapa hal.

Kita pengen dia eksperimen sepuasnya
Ini karena di saat eksperimen otaknya berputar untuk menemukan logika dan meski meja tamu kita bisa berubah jadi seperti meja bedah film horor, Insya Allah dia ngerti buah dari eksperimen itu. Untuk itu, semua mainan dan semua barang yang dia bisa makan, ditaro di bawah. Pecah belah dan barang-barang beracun seperti, oh I dont know, racun tikus, itu di atas.

Kita gak pernah capek ajarin dia untuk makan sendiri dan megang gelas sendiri. Hasilnya lumayan. Aldebaran semakin sedikit tumpah-tumpah kalo minum. Masalah dengan minum adalah dia jadi sering sekali ngebanjur lantai dengan susu coklat dan orange juice.

Kita kasih dia kursi dan meja sendiri sebagai area eksperimen. Sebelum itu dia ekspermien di mana-mana.

Kita Pengen Dia Kaya akan Kosa Kata
Kalo kita lagi jalan, kita pasti tunjuk, that's a tiger.
Loook at the cars Alde, wow there are so many cars. How many cars Alde? Let's count together.
Look at the black bird alde. The black bird is flying!
Sebenernya rada aneh ngajak dia ngomong dengan kalimat penuh. Tapi setidaknya lama-lama dia ngerti bahwa benda itu adalah burung dan burung itu berwarna hitam. burung yang hitam itu sedang terbang.

Tentunya di kebanyakan waktu dia gak merhatiin. Tapi kuncinya di sini gak nyerah dan terus ajak dia ngomong. Dan ajak dia ngomong dalam 2 bahasa.

Kita Pengen Dia Jadi Decision Maker
Gua ragu dengan konsep natural born something. Gua percaya bahwa personality kita adalah hasil didikan lingkungan sekitar dan orang tua. Sebagai seorang bungsu gua terlatih untuk melihat dan mencerna dan itu adalah yang gua cerna. Kita adalah hasil didikan.

Mendidik Alde menjadi decision maker metode kita sangat gampang bahkan cenderung primitif karena kita juga masih belajar jadi orang tua.
Kalo kita lagi jalan pagi atau jalan sore, dia yang jalan di depan. Kita gak gandeng dia. Biarin aja dia mau belok kiri atau kanan. Mau dia kejar kucing atau kejar burung, terserah. Dia yang memutuskan mau ke mana.

Kalo Alde bingung, kita bantu dengan pilihan dan ini yang paling sering kita lakukan.
Alde mau ke mana? Ke kiri atau ke kanan?
Kalo Alde lagi ganti baju untuk pakai piyama, kita tanya
Alde mau yang merah atau yang biru? sambil menyodorkan keduanya pada Alde.
Kalo ke super market,
Alde mau coklat atau pocky-pocky?

Kita Pengen Alde Percaya Diri & Menggunakan Potensinya
Ketika Alde melakukan sesuatu yang salah atau bahaya. Kita larang.
Tapi ketika Alde berhasil melakukan sesuatu, kita tepukin tangan dan "bilang good job Alde!!"

Ini hasilnya sangat menggembirakan. Alde mulai bisa meng-apresiasi dirinya. Di saat dia berhasil melakukan sesuatu, dia berkata 'yay' sambil menyelamatkan diri dia dengan tepuk tangan pada diri sendiri. Dari 14 bulanan dia mulai bereaksi seperti ini. Contohnya pernah suatu kali dia naro apel di atas gelas dan bawa semua itu tanpa jauh dari dapur ke meja makan. Bagi kita mungkin itu remeh banget dan mikir 'ah gitu aja bangga' Tapi eh siapa tahu bagi dia itu adalah mile stone yang sangat-sangat tinggi. Ya gak?

Dan di 19 bulan, kita mulai dengar dia bilang 'good job' pada diri dia sendiri.

Bagi gua kedua hal di atas adalah sesuatu yang sangat menggembirakan. Dia bisa menghargai diri dia sendiri. Banyak orang tua yang gak sadar betapa pentingnya hal ini. Kalo kita gak bisa menghargai diri sendiri, orang akan bisa melihat itu dalam perilaku kita dan mereka gak akan menghargai kita.

Kalo kita percaya diri. Itu akan terpancar dari diri kita dan orang akan menghargai kita juga. Pernah gak ketemu orang yang ketika dia ngomong atau presentasi, karismanya terasa dan kita jadi terkesan dengan apa yang dia omongin? Itu percaya diri. Dan itu yang harus kita pupuk.

Di umur 12 bulan dia mandiri bisa naik turun tempat tidur sendiri. Ini karena beberapa kali dia bangun dan nangis minta gendong kita gak kasih. Malah, kita kasih tau dia cara naik turun tempat tidur sendiri. Hasilnya, dia gak pernah bangun nangis lagi.

Kita kasih tau dia cara buka pintu sendiri dan di umur 12 bulan udah bisa. Jadi kalo bangun dan bapak ibunya gak ada, dia gak perlu nangis. Dia bisa bergantung pada dirinya sendiri. Ini kita cenderung beruntung sih. Gerendel rumahpintu rumah kita cukup rendah untuk Alde bisa raih. Segera setelah gua sadar, gua langsung ajarin dia buka tutup pintu. Soalnya selain belajar mandiri, bagus untuk keselamatan. Api adalah sesuatu yang secara alami orang takuti Bayi juga takut sama api. Tapi pintu bukan sesuatu yang alami. Pintu adalah buatan manusia yang pengoperasiannya kita harus ajarkan. Makanya in case kebakaran, gua harap dengan tahu cara buka pintu, Alde bisa langsung melakukannya.

Kita kasih tahu cara minta ke kamar mandi dan sekarang kalo mau ke kamar mandi, narik-narik ibunya.

Kita Pengen Alde Bersosialisasi
Ketika kita melihat kecenderungan ketergantungan pada kita, kita mulai masukin dia ke dalam day care. Sayangnya day care di Singapur mahal banget jadinya kita masukin dia dua kali seminggu aja. Tapi ini adalah investment kita terbaik sejauh ini.

Dengan masuk day care, ada beberapa perkembangan yang kita lihat:
1. Alde jadi lebih mandiri lagi. Dia ngeliat beberapa temannya megang gelas dan minum sendiri dari pipet. Sebelum day care, ia selalu gak mau minum dari pipe dan malah dia maenin. Sekarang dia gak terlalu sering maen sama pipet dan akhirnya menggunakan pipet untuk minum.
2. Dia belajar dari teman-temannya beberapa kosa kata yang berbulan-bulan kita gak bisa.
3. Dia jadi sadar bahwa buah-buahan seperti apel ternyata banyak yang makan.
4. Dia belajar dari teman-temannya beberapa tindak-tanduk.
5. Ninit bisa punya waktu lebih untuk ngembangin bisnis zaralde (yang btw, booming!)

Kalo gua pikir-pikir bener juga sih.
- Kalo kita masukin day care meski mahal, dia dijaga oleh orang-orang yang berkualifikasi. Bukan pembantu yang lulus SD aja nggak.
- Orang-orang berkualifikasi ini tahu cara handle anak dan psikologi anak juga, gak kayak pembantu kita yang terkadang gak punya pengalaman. Mereka gak salah, kitanya yang salah mempercayakan anak pada mereka.
- Day care punya program yang terstruktur. Serahin anak ke pembantu? anak kita akan terstruktur nonton sinetron.

Tapi yang paling penting adalah Alde mulai make friends. Itu yang luar biasa penting. Kalo kita ingin dia menjadi mahluk sosial, biarkan dia interkasi dengan anak lain.

Lagi-lagi semuanya kembali pada kepercayaan yang gua anut di mana pribadi dan kecerdasan anak itu gak semuanya terpatri saat dalam DNA dia lahir. Makanan, lingkungan dan cara lingkungan itu mendidik anak jauh lebih penting, kalo gak sama pentingnya dalam membangun mentalitas anak.

Gua suka rada sewot sama orang tua yang bangga-banggain anaknya tapi ketika ditanya resepnya apa, mereka selalu bertolak kembali ke anak itu.

"Anak gua sekarang bisa gini lho!" -> wajar ortu bangga sama anak, wajar.
"Oh ya? Gimana caranya dia bisa sampe gitu?"
"Ntah. Dia langsung aja bisa sendiri. Wah anak gua hebat!" -> Ini yang ngeselin. Untuk beberapa hal memang kecerdasan seorang anak sering mengagetkan orang tua. Contohnya, anak temen baik gue umur 7 bulan udah bisa berdengung sangat mirip dai adzan. Ini mungkin karena dia sering mendengar adzan tanpa bapaknya ajarin. Ini wajar banget. Dan itu adalah contoh dia belajar dari lingkungan.

Tapi gak semua hal seperti itu
. Don't you know what you are teaching to your kids? Are you sure that's because of them? Atau thanks to your maid? Or thanks to you?

Alot of us just don't have a clue.

Kita pengen anak kita pinter tapi giliran dia ribut sedikit, kita bentak dia suruh diam. See? apa yang kita pengen sering kali gak sejalan dengan apa yang kita tahu. Kita sering merasa lebih pintar dari anak kita dan mengajarkan dia ini itu benar dan salah, tapi kita gak sadar kalo kita juga harus belajar jadi orang tua.

Apakah gua sukses? Gak tau lah. Metode-metode di atas juga gak certified dan gua hanya melakukan semua ini dari observasi saja. Don't take my words for it. Tapi hidup itu bukan game komputer. Apalagi hidup anak kita. Kita semua ingin memberikan yang terbaik untuk anak kita. Masalahnya terkadang kita sendiri gak sadar bahwa yang kita berikan itu bukan yang terbaik. At least, if we know what we'e doing, we're a bit safer.

Sekarang kalo bisa, sharig dong, didikan apa yang kalian berikan pada anak yang berbuah baik? Ajarin apa, jadinya gimana gitu. Sharing ya!

Rgds.

Labels: ,





Loosing My Mojo
Saturday, March 22, 2008

But not in a sexual way tho hahaha.

Gua sedang dalam kondisi yang bagi gua cukup menyedihkan. Sejak tahun 2003 gua selalu mencoba mendeliver 1 karya. masalahnya sekarang gua belum nulis dari februari 2007 sampai maret 2008. Itu adalah jedah satu tahun - terlama gua gak menghasilkan karya dalam bentuk apa pun. Be it script, novel, adaptation, anything.

Waktu ada. Waktu selalu ada. Secara kantor gua hanya 15 menit jalan kaki dari rumah. Tapi pulang kantor, selalu ada Alde menunggu dan minta main bareng. Apalagi akhir-akhir ini Alde lebih clingy ke gua. Kalo gua mau ke kantor dia teriak. Kalo pisahan di mall untuk nyewa dvd, dia teriak. But regardless, truth be told, any given day gua memilih untuk memberikan semua waktu gua pada Alde.

Jadi waktu bukan masalah. Terus apa masalah gua? Kerja? Bagian ini juga memiliki masalah. I've been making friends with a bohemian couple, the famous indrani.net. dan dari pertemuan dengan mereka gua jadi ingin ikutan les berlayar. Ada kali Indra 4-5 kali ngajakin gua memulai les tapi somehow gua selalu tolak. kebanyakan karena weekend gua harus kerja. Sekali waktu sakit. Dan kesempatannya selalu hilang. kemudian gua ajak dia ikut amazing race 3. yang mana besoknya langsung ada pengumuman dari kantor akan prkembangan downsizing. Gak lucu aja gua ikutan amazing race 3 dan dapet telfon
"Adhitya, would you liek a retrechment package?"

So that's that.

Kerja ini juga memberikan tingkat stress yang sangat tinggi. ketika gua mulai nulis bajak laut beberapa bulan yang lalu, company gua mengalami downsizing dan gua jadinya me-rem pekerjaan menulis untuk konsentrasi ke pekerjaan.

Apakah ide juga masalah? Ya. Safe to say bahwa gua kebanyakan ingin cerita dalam bajak laut ini.
Dari sejarah raja-raja nusantara - yang ternyata 1 raja bisa punya 3 versi yang gua bingung mana yang bener.
Kehidupan sosial Batavia yang sadis dan tidak komedik.
Sampe cerita bajak laut itu sendiri yang harus diramu dengan kocak.

Ketika seseorang mencoba menggabungkan ketiganya, emosi penulisan jadi naik turun dari bab ke ba. Bukan emosi membaca, tapi emosi menulis. Yang namanya nulis komedi itu moodnya harus pas. ketika mood kita komedik di bab 2 dan kita pindah ke bab 3 yang menerangkan kawasan penjaringan, mood komedi itu hilang. Masuk ke bab 4 yang komedi lagi, sulit sekali mendapatkan mood komedi itu lagi.

Trus lagi, proses kehidupan. Ketika gua nulis jomblo, gua masih jadi bujangan happy go lucky type. Nulis GMC gua masih married dengan posisi karir yang masih mencari bentuknya. Nulis TT anak gua masih kecil. Sekarang? gua udah jadi bapak anak satu yang punya portfolio investment besar untuk hari tua dan karir yang mulai speasialis dan hampir diguncang downsize (gua survie btw, alhamdulillah). Dengan cukup jelas, hal-hal yang gua hadapi, jalani dan atasi sekarang jauh lebih penting dan memerlukan kedewasaan berpikir. Dan itu merenggut semua cita rasa komedi gua/ If you look at my blog writings, there hasnt been any single comedic entry for a long, long time.

As a recap to all of this, I could be loosing my mojo in writing comedy.

Akhirnya untuk bajak laut ini, gua mulai nulis lagi. dan gua memutuskan untuk tidak menggunakan hasil riset 4 tahun dan mulai menulis mengalir begitu saja agar komedinya lepas. Terkadang gua berharap bis aselepas dan serileks Rasdit Kambing jantan atau Endang rukmana. Tapi gua sadar gua gak bisa. Gua punya tanggungan dan actually solid good career to maintain. Dan membalance kedua hal itu dengan menulis is no easy job at all.

Oh well. time to try to write again.

Brgds.

Labels: ,





Sekuel Jomblo
Sunday, March 02, 2008

Guys, mau nanya nih.

Gua punya feeling kuat banget untuk melanjutkan novel jomblo.

Feeling ini datang dari niat gua untuk menyelesaikan apa yang di sinetron di cut. Jadi ya mungkin materi ceritanya sebagian kecil akan gua ambil dari serial Jomblo walau pun gua bisa jamin itu gak banyak.

Menurut kalian gimana? Mau gak baca Jomblo 2?

Tolong utarakan setuju tidak setujunya ya.

Bukannya gua plin-plan tapi yang baca nantinya kan kalian-kalian juga. So, please speak up.

Labels: ,





Membeli Masa Depan
Tuesday, February 26, 2008

Sebelumnya makasih bagi yang udah komen dan ngasih masukan di posting gua yang ini.

Di Singapur sini kita bisa nonton RCTI dan SCTV. Di suatu malam gua lagi memindai channel dan melihat sebuah iklan yang menggugah. Iklan itu adalah iklan dari tabungan rencana Bank Mandiri.

Adegan pertama: Ada anak kecil lari-lari keliling meja makan. Di meja makan itu, ada pasangan muda meminjam uang ke orang tua mereka dan ada insert tulisan “Untuk biaya masuk SD”. Di akhir adegan itu, kita melihat liontin emas ibu muda.

Adegan kedua: pasangan tersebut sudah terlihat lebih dewasa dan sang ibu melepaskan liontin emas itu dengan muka urung. Insert: “Untuk biaya masuk SMP”

Adegan ketiga: Anak itu sudah dewasa, membuka garasi dan anak itu murung melihat garasi mereka kosong. Sang bapak keluar dengan vespa. “Untuk biaya SMA”.

Adegan ini diakhiri dengan sang bapak hujan-hujan pergi kerja naik vespa, di depan rumahnya ada tulisan “rumah dijual” insert: “untuk masuk kuliah”

Ini adalah satu iklan yang sangat-sangat kuat. Hati gua belum pernah ngerasa terenggut melihat sebuah iklan. Bener banget.

Life is not a game. You can’t restart your life. Once you make a mistake, that’s it. You’re done. Apalagi hidup di Indonesia yang jujur saja, sangat unforgiving. Gua pendukung SBY dan so far dia melakukan yang terbaik untuk kita semua. Sayangnya orang-orang seperti Mega dan Amien Rais kerjanya membuat sentimen negatif saja. Gak ngebantu. Kita ini gak akan pernah maju jika pemimpin negara dibacokin orang-orang yang kerjanya pengen jadi pemimpin negara.

Hidup untuk Masa Depan
Iklan di atas sempat membuat gua tidak tenang melihat apa yang sudah ada di tangan. Tapi gua berusaha merasa qana’ah karena tidak ada yang lebih buruk di hadapan Allah selain orang-orang yang kufur nikmat. Bener kata temen-temen yang komentar di bawah bahwa kalo kita takut, kita tidak akan pernah merasa cukup dan akhirnya menghabiskan waktu kita khawatir ketimbang bersyukur.

Kita itu (seharusnya) hidup untuk masa depan. Bokap gua pernah ngasih tau statistik di bawah:
5 dari 10 pensiunan hidup bergantung pada anak dan kerabat
2 dari 10 pensiunan masih harus kerja unutk membiayai sisa hidupnya
1 dari 10 pensiunan punya uang pas-pasan untuk mandiri setelah pensiun
1 dari 10 pensiunan punya uang berlebih di saat pensiun

Mengerikan ya? Dari yang gua lihat dalam hidup, memang begitu. Sebenernya bukan karena kita miskin-miskin amat sih tapi kita itu sering belanja hal-hal yang kalo dipikir baik-baik, gak perlu.

Sekarang gimana caranya kita pensiun dengan baik? Dan di atas itu, membekali anak dengan pendidikan yang cukup? Iya kalo anaknya satu. Kalo 3? Satu lagi ungkapan yang gua pernah dengar yang sangat-sangat memotivasi gua untuk nabung:

Kecil, gak nyusahin orang tua
Tua, gak nyusahin anak

Iya kalo anak kita sukses. Kalo gak sukses kan kasian dia. Mencukupi dirinya sendiri aja mungkin susah, apalagi nalangin kita? Masa muda anak kita adalah masa dia mencari penghidupan untuk mensecure hari tua dia, bukan hari tua kita.

Nah gua mau share sesuatu di bawah. Bukan karena gua sukses melakukannya, atau telah berhasil menyelesaikannya. Tapi gua pengen aja sharing karena penting untuk diketahui dan semoga memberikan insight yang baik bagi yang belum tahu.

Tentukan gaya Hidup Kita
Di umur 30 ini gua belajar begini: gaya hidup itu menentukan survivality kita di hari tua. Maksudnya gini:

Ini skema hidup keluarga A
Gaji = 100%
Living cost yang kita jalankan selama ini = 80%
Tabungan = 20%

Guess what? Setelah pensiun nanti, A akan kesulitan mengadjust gaya hidupnya karena setelah pensiun, dia gak punya atau punya sedikit income. Dan dia harus hidup berbiaya 80%. Tapi masalahnya dia cuman punya 20%. Mending kalo 20% ini bisa nutupin basicnya, kalo nggak gimana?

Jadi yang perlu kita tentukan sekarang adalah bagaimana gaya hidup yang kita inginkan dan berapa yang ingin kita tabung.

Basic Consumption & Life style

Persentase di atas tidak linier. Maksudnya, orang yang penghasilannya rendah akan mencak-mencak melihat persentase di atas karena memang ada biaya hidup pokok minimal. Mungkin bagi orang yang penghasilannya 20 juta setahun, persentase di atas gak jalan. baca: minimum living cost katakanlah 10 juta setahun. Jadi mending persentasenya kita kembalikan aja pada diri masing-masing.

Yang berusaha gua jelskan di sini adalah, living cost itu ada dua komponen.

Living cost = lifestyle x basic consumption.

Contoh, orang sama-sama butuh mobil ke kantor. Yang satu beli mobil second, yang satu beli Alphard. Orang sama-sama butuh dinner. Yang satu sering dine out, yang satu masak.
Orang sama-sama butuh tas. Yang satu beli satu 60 juta, yang satu 600 ribu.

Basic consumption semua orang sama. Tapi yang membuat living cost kita berbeda adalah gaya hidup kita. Apa beli tas mahal salah? Nggak kok. Terserah, gua gak ngejudge. kalo memang mampu ya by all means, beli aja. Hanya saja, di kebanyakan kasus, gaya hidup kita lah yang membuat living cost tinggi. Bukan basic consumptionnya.

Bagi pembaca yang tergerak untuk menerapkan hal yang sama, harap diingat bahwa makin banyak anak, ya gajinya makin terbagi kecil. Bisa jadi seperti ini:

45% cost
35% pensiun
10% anak 1
10% anak 2

45% cost
30% pensiun
8% anak 1
8% anak 2
8% anak 3

Masalahnya dengan skema ini adalah, skema ini tidak berlaku pada keluarga yang incomenya terlalu kecil. Gua pernah bergaji sangat kecil dan bahkan untuk menghidupi diri gua aja susah.

Automate your Savings
Sekarang kita udah menentukan gaya hidup kita dan bertekad menabung beberapa % income kita. Next step? Kebanyakan orang, termasuk gua, gak bisa nabung. Beberapa orang bikin channel tabungan. Termasuk gua. Gua gak tau apakah ini manjur karena resultnya kita lihat 25 tahun lagi tapi setidaknya ini yang gua percaya dan gua lakukan.

Setelah menentukan berapa yang harus ditabung, kita otomatisasikan tabungan kita. Manusia itu pada dasarnya susah nabung. David Bach dalam bukunya ‘Automatic Millionaire’ mengatakan bahwa semua pemerintah di dunia ini langsung otomatis motong pajak dari gaji kita karena mereka tau kita suka lupa bayar pajak. Ha yang sama kita terapkan saja pada diri kita. Kita bisa request ke bank agar setiap tanggal 1, gaji kita dipotong ke tabungan pensiun kita, ke tabungan pendidikan anak kita dan ke mana saja yang kta mau. Akhirnya yang ada di tabungan utama hanyalah sisa untuk living cost kita. Jadi di awal bulan, yang pertama kita amankan adalah masa depan kita, bukan masa depan mango, zara atau honda jazz kita. Kalo tidak dipagari seperti ini, kecenderungannya adalah habis. Untuk ini, gua rekomendasikan banget buku David Bach ‘Automatic Millionaire’

Security
Oke, sekarang ada tabungan pensiun. Bagus. Eh besok kita ditabrak bus. Pupuslah harapan anak untuk terus sekolah. Istri juga kalo gak berpenghasilan bisa repot. Yang tadinya kita bermimpi anak kita bisa sekolah di universitas top indonesia, jadi bisa gak kuliah sama sekali.

Dan tahukah kita bahwa statistik membuktikan bahwa rata-rta suami meninggal 6 tahun lebih cepat dari istrinya? Dari sini datanglah pentingnya asuransi.

Gimana cara milih asuransi yang baik? http://priyadi.net sudah membahasnya dengan baik. Mending baca di sana. Di sini, gua cuman pengen sharing apa yang gua tau (yang mana sedikit), agar mungkin temen-temen bisa untung dari sini.

Yang jelas, menentukan asuransi itu sebaiknya gini:

Uang pertanggungan = living cost / tahun x 20 tahun (atau terserah mau berapa tahun).

Dengan formula ini, maka jika kita meninggal, insya allah keluarga kita dapat hidup selama 12-20 tahun. Lho kenapa gak full 20 tahun? Karena inflasi. Living cost tahun 2008 mungkin 4 juta. Di tahun 2020 bisa jadi 10 juta.

Masalahnya, makin tinggi uang pertanggungan, makin tinggi premi pertahunnya. Untuk itu, menentukan nilai asuransi ini juga harus bijak dan harus dalam kemampuan kita juga. Misalnya kita tabung 40% gaji. Kita split 40% ini jadi 10 dan 30.

30% pensiun
10% insurance
Toh keduanya sama-sama berbunga kok.

Dulu asuransi ini sepi peminat karena asuransi tidak melink dana kita ke investasi. Yang ada, uang kita menyusut tanpa bunga. Mending taro di bank. Gitu pikiran banyak orang. Sekarang unit link ini menjadi buruan banyak orang. Gua dulu alergi yang namanya memercayakan uang keringet gua sama asuransi. Sekarang kenapa tidak? Not bad kalo gua bilang. Jika kepala keluarga meninggal, kepala keluarga akan mendapatkan mana yang lebih tinggi antara uang pertanggungan dan nilai investasi. Lumayan kan? Btw, http://priyadi .net sih tidak menganjurkan. Tapi gua sih merasa aman sekali dengan skema ini.

You may disagree with this ya. Tapi gua sih jalanin.

Invest
Di posting gua yang terdahulu gua udah bilang bahwa musuh gua setidaknya adalah inflasi. Mau income kita 1 juta per bulan atau 100 juta, kita taro di bank, tetap aja kalah sama inflasi. Contoh:

Inflasi = 10%
Bunga bank = 2%
Tabungan kita = 1000
Harga telur 2007 = 1000
Harga telur 2008 = 1100
Uang kita 2008 = 1020
Tahun 2008 kita gak mampu makan telur.

Di sini lah pentingnya investasi. Instrumen investasi apa yang dipilih? Beberapa sudah gua tulis di posting sebelumnya. Berapa yang mesti kita invest? Nah ini tergantung dari seberapa ambisiusnya kita dalam hidup. Yang jelas, ada beberapa pointers:

- asset & liability
Robert Kiyosaki dalam Rich dad poor dad bilang “rich dad buys assets. Poor dad buys liability”. Ini bener banget. Banyak sekali orang tua yang menghabiskan uang 200 juta membelikan anak mereka mobil. Masalahnya, mobil itu mengalami penyusutan 20% per tahun. Harganya tahun depan langsung 180 juta. Umur mobil juga 5 tahunan. Itu bukan aset. Itu liability.

Kalo memang ingin memberikan anak 200 juta, kenapa gak belikan dia rumah susun? Atau BTN? “Nak, ini ayah belikan rumah 1 bukan untuk ditempatin. Sana kamu kontrakin dan uangnya buat kamu tabung.” Rumah, di 80% kasus, adalah aset.

Aset adalah sesuatu yang memberikan kita return. Yang kalo kita jual lagi, nilainya bertambah dan memberikan kita proft.

Liability adalah sesuatu yang setelah kita beli, nilainya susut. Yang kalo kita jual lagi, kita mendapatkan loss.

- Biggest & Most Basic Investment
Hal pertama yang harus disukseskan dalam investasi, dan ini yang gua setuju ya, terserah kalo gak setuju, adalah rumah. Direkomendasikan untuk rumah sendiri. Jangan sampe ngontrak seumur hidup. Di kala kita ngontrak, kita membuat orang lain kaya tanpa memberikan kita hak kepemilikan. Bisa-bisa setelah pensiun, kita gak punya penghasilan untuk membayar kontraknya. Setelah itu mau tinggal di mana?

Kalo kita cicil rumah, sejelek apa pun rumah itu, rumah itu adalah hak milik kita. Tidak ada rasa aman yang lebih baik dari pada memiliki rumah tempat kita tumbuh tua nanti.

Kalo nggak gini, kasian anak. Mereka nanti nikah dan butuh ruang, waktu dan energi untuk membangun keluarga kecil mereka. Kalo kita tinggal bersama mereka, kasian. Lenyaplah impian istri untuk ML di dapur huahahaha. Gak deng. Memang di kebanyakan kasus, orang Indonesia menganut kebudayaan orang timur di mana:

Ketika kita kecil, mereka merawat kita.
Ketika dia tua, kita merawat dia.

Ini sebabnya banyak sekali temen gua yang bungsu yang bersikeras gak mau keluar rumah. Kasian ninggalin ibunya. Si bungsu lah yang bayarin listrik, air, kabelvision dll.

Ini sebabnya banyak temen gua yang sering bilang “Udah, mamah di sini aja sama saya”

Semua itu bagus. Semua itu mulia. Semua itu dianjurkan agama. Tapi semua itu adalah cerita temen-temen gua yang mapan secara finansial dan berniat mengembalikan budinya. Temen-temen gua yang kesulitan finansialnya? Well, beda cerita.

Setidaknya di mata gua, sebagai anak yang baik, harus selalu siap untuk menampung orang tua. Itu harus. Bokap gua menyisihkan 25% gajinya selama belasan tahun untuk hidupi orang tua dia.

Tapi sebagai orang tua yang baik, rasanya gak tega ngeliat anak ngerawat kita sementara dia bisa menghabiskan waktu muda dia mengejar impian-impian. Makanya, invest your money. Nah sekarang pertanyaan, berapa yang mesti kita investasikan dari income kita? Sekali lagi, terserah.

Tadi di atas sudah ada ini:
30% pensiun
10% insurance

Kenapa nggak,
10% atau 20% pensiun
10% insurance
20% atau 10% investasi

Ingat aja, makin kecil uang yang disisihkan untuk investasi makin lambat investasi itu bisa berbuah. Kalo sisihan untuk invetasi terlalu kecil, ditakutkan malah gak pernah terwujud impiannya. Contohnya, mau beli emas batangan. Tapi harganya naik lebih cepat ketimbang jumlah uang yang kita sisihkan perbulannya. Yang ada kejar-kejaran.

Sekali lagi, instrumen investasi sudah gua tulis di postingan sebelumnya dan juga banyak terdapat di blog ttp://priyadi.net

Hutang
Disarankan untuk jangan punya hutang, kecuali hutang itu untuk membeli rumah perdana dan itu pun jangan terlalu banyak. Banyak orang yang bermimpi memiliki rumah megah dan bersikeras beli cicil. Masalahnya,

Rumah gede = biaya maintenance gede
Rumah gede = cicilannya puluhan tahun

Temen gua ada yang lumayan jenius. Dia beli rumah kecil, 5 tahun lunas. Sementara 5 tahun itu dia juga nabung dengan istri. Setelah lunas ternyata mereka punya cukup tabungan untuk nyicil rumah ketiga yang lebih baik. Rumah pertama mereka kontrakin dan mereka tinggal di rumah cicilan kedua. Sebentar lagi meeka akan melakukan yang ketiga.

Ada lagi kasus yang lumayan miris. Rumahnya terlalu besar tapi gajinya terlalu kecil, sehingga dia butuh 20 tahun untuk lunasin. Itu semua gajiu habis hanya untuk rumah. Jujur aja, kalo cicilan sampe 20 tahunan, yang ada kita bayar rumah itu 2x harga beli kita. 2 kali! Itu sama dengan kita beli 2 rumah! Tapi ini nggak. Akhirnya orang itu pensiun tanpa sempat menggunakan uangnya untuk investasi.

Intinya, hutang itu boleh tapi terbatas dengan:

  1. pembelian aset
  2. pastikan beli rumah yang sesuai dengan gaji kita. Jangan ngoyo.
  3. pastikan cicilannya tidak terlalu banyak sehingga kita masih punya umur produktif untuk investasi yang lain juga.

Again, ini hanya dari pengalaman dan observasi pribadi gua. mungkin pembaca yang berwawasan lebih, boleh kasih input. Biasanya syarat umum Bank di indonesia adalah: uang cicilan = 1/3 dari income gabungan suami istri. Kalo gitu, skemanya jadi berubah:

45% cost
33% cicilan rumah
8% anak 1
8% anak 2
6% insurance atau investasi atau pensiun

Skemanya terserah tapi kita bisa lihat bahwa semua komponen itu penting. Dan bisa kita lihat juga bahwa adanya cicilan rumah benar-benar memotong keleluasaan kita dalam berinvestasi kan. Dan bahkan untuk cicil rumah, bukan gak mungkin kita harus memotong biaya hidup jadi lebih kecil dari 45%. Makanya cicilannya jangan terlalu lama dan telalu besar.

Metode Yang Beda
Metode di atas hanyalah 1 dari jutaan metode yang kita bisa jalankan. Contoh metode lain adalah:

- 5 tahun pertama konsen beli rumah

- 5 tahun kedua konsen nabung buat investasi

- 5 tahun ketiga konsen nabung pensiun

Beberapa temen gua malah hanya bergantung pada jamsostek untuk pensiun. Uang bebasnya semuanya dia investasikan di rumah kedua dan bilang “Ya ini sapi pensiun gua.” Agar nanti kalo udah pensiun, uang kontrakan rumah itu dapat nyambung hidup dia.

Upside
Dengan cara seperti ini, orang biasanya lebih cepat mendapatkan masing-masing target. 55% gaji dia dimasukin untuk investasi. Denga modal sebesar ini, returnnya juga bisa besar dan lebih cepat. Sound good. Tapi ada kelemahannya.

Downside
Kalo misalnya pas lagi ngejar lunasin rumah, kepala keluarganya meninggal, gak ada dana back up dong.

Kalo misalnya pas 5 tahun investasi ternyata reksadana crash, habis semua uang. Kalo 5 tahun nabung dollar ternyata dollar jadi 2000 perak, the end. Lenyap udah itu semua.

Kalo misalnya keasikan beli rumah dan investasi, bukan gak mungkin kita telat nabung buat pensiun. Kenapa sih pensiun itu penting meski sudah ada investasi yang berbuah?

Karena kita tidak bisa memprediksi masa depan. Kita bergantung sama 3 rumah kontrakan. Suatu hari 2 dari 3 digusur.

Intinya sih keuntungan dari diversifikasi adalah kalo kita sial di satu hal, kita masih bisa bergantung dengan hal lain. Memang gak banyak, tapi itu safe. Kerugian diversifikasi adalah menunggu semuanya berbuaha bisa belasan tahun. Gimana nggak? Secepat apa kita bisa memperbaiki taraf hidup kalo kita hanya mampu sisihkan gaji 2% untuk investasi?

Semuanya dikembalikan ke masing-masing lah. Gak ada yang benar dan salah. Gua yakin semua yang baca blog ini by now sudah mikir, skema apa yang selama ini mereka jalani dan gak defensif atau ofensif jika tidak setuju dengan penjelasan di atas. Toh semuanya dikembalikan ke diri dan kondisi masing-masing yang mana kondisi itu gak mungkin sama.

Gua sendiri menjalankan sebuah skema. Gua gak tau apakah skema itu akan berhasil. Yang penting, kalo niatnya baik, ikhtiarnya giat, dan sabar menghadapi cobaan, itu berarti kita sudah menjalankan skemanya dengan benar.

Penutup
Yang jelas, gua berpegang sama proverb di bawah:

Kecil, gak nyusahin orang tua
Tua, gak nyusahin anak

Kita Sebagai Anak
Sadarkah kita kenapa orang tua naik haji di usia senja? Karena orang tua kita ingin memastikan dulu kita mentas. Betapa mulianya ya mereka.

Sekedar sharing aja, temen gua dulu ada yang ngobat. Sekarang nyesel seumur hidup. Dia nyesel karena sampai akhir hayat mereka sang orang tua tidak pernah sempat menunaikan ibadah haji. Kenapa? Karena tabungan haji mereka habis membayar rehab temen gua. Setelah sembuh mentas dan kerja, hal pertama yang temen gua lakukan adalah haji dan mendoakan mereka.

Dari dia gua belajar untuk sebisa mungkin gak pernah nyusahin orang tua. Kalo gak bisa sukses, minimal gua gak bikin mereka sedih.

Kita Sebagai orang tua
Tantangan tiap jaman itu beda. Dan semakin ke sini, semakin hebat. Dulu bapak kita cukup dengan S1 dan dapat berkarir seorang diri membiayai semua keluarga.

Jaman kita? Dibutuhkan suami dan istri untuk kerja mencukupi kebutuhan hidup. Belum lagi kualifikasi sekarang banyak yang harus S2. Ambil koran, baca bagian karir dan hiotung berapa banyak yang kualifikasi S2? Chances are, many. Dan supply lulusan S2 pun banyak yang masih struggle mendapatkannya (yang mana menjadi constant reminder gua untuk harus sekolah lagi).

Jaman anak kita? Gak kebayang kan? Ini sebabnya pensiun itu sangat penting. Anak-anak kita menghadapi apa yang tidak terbayangkan oleh kita susahnya gimana. On top of that, mereka harus mencukupi diri mereka sendiri. Memang gua yakin banget kita sebagai masyarakat timur, mereka pasti tidak keberatan mengurusi kita. Masalahnya, kitanya tega gak?

Kecil, gak nyusahin orang tua
Tua, gak nyusahin anak

Ada mau sharing bagaimana bentuk pembelian masa depan yang lain?

Labels: ,





Getting Smart on Money
Saturday, February 23, 2008

Untuk kesekian kalinya gua gak tidur sampe pagi ninggalin ninit yang tidur sendiri di dalam kamar. Seperti biasa pikiran gua melayang ke mana-mana mikirin beberapa hal. Satu hal yang paling lama menghinggapi pikiran gua sampe pagi adalah keuangan.

Jahatnya Inflasi

Beberapa tahun terakhir ini gua sering mendalami ekonomi. Itu juga dengan kapasitas otak S1 gua yang sangat terbatas dengan legendarisnya. gua mulai belajar dengan menganalisis ekonomi yang ada dengan banyak baca dan banyak ngobrol sama orang. Referensi lain adalah blog-log terkenal seperti http://priyadi.net yang emang analisanya edan. Salut lah sama dia.

Semuanya berawal ketika gua menyadari bahwa laju lnflasi di Indonesia ternyata lebih tinggi dari kenaikan kesejahteraan gua. Contohnya:

Tahun kemarin gua bisa beli telur harga 1000. Tahun ini harganya 1100. Artinya lnflasi = 10%.

Sedangkan bunga di bank = 3%. Artinya tahun kemarin gua nabung 1000. Tahun ini jumlahnya 1030. Terus gua mikir. Gila ya. gua udah kerja siang dan nulis malem-malem tapi tiap tahunnya nilai dari uang yang gua capek-capek dapatkan, menyusut. Gak adil. Gua bukan koruptor. Gua kerja keras. Tapi itu lah keadaannya. mau pendapatan kita 1 juta atau 100 juta, kalau kita biarkan saja, nilainya akan menyusut.

Inflasi versi pemerintah = 6% per tahun. Kenyataan di lapangan berkata lain. Inflasi telah sukses membuat tukang goreng pisang bunuh diri karena gak kuat lagi beli minyak tanah. Itu tukang kurang usaha apa coba? Dia bisa aja ngemis pinggir jalan kalo mau dan earning 50000 per hari (1.5 jt / bulan) kalo dia mau. Tapi dia memilih ikhtiar. Yang dirasakan banyak orang saja 10% meski untuk beberapa sektor, lebih dari 10%.

Harga apartemen bersubsidi X di sebuah kawasan, akhir 2007 masih 200 juta. Awal 2008, 230 juta. Gila, ganti tahun, 15% naiknya. Ini masih apartemen murahan.

Harga apartemen yang mahalan, tahun 2006 masih 600 juta. Awal 2008, 700 juta. Itu sekitar 9%-10%.

Mengalahkan Inflasi
Dari analisis di atas, gua nemu bahwa musuhnya adalah inflasi. Gua gak bisa ngandelin pemerintah karena pemerintah sekarang terus dibacok calon-calon presiden yang pengen gulingin mereka. 10 tahun reformasi, semua orang yang menggulingkan Suharto berusaha saling menggulingkan dan meningalkan negara ini sebagai satu-satunya negara yang belum lepas dari krisis eknomi di Asia.

Inflasi sendiri dipengaruhi banyak faktor yang gua gak mungkin tahu. Tapi dari matematika dasar yang otak S1 ini bisa pikir, artinya:

1. Kenaikan income/tahun > laju inflasi.
Masalahnya, gua kayak gini aja udah ngos-ngosan dan stres. Apa iya gua pulang kantor masih harus ngojek juga?

2. Tabungan yang ada, nilainya bertambah > laju inflasi
Bagi gua ini yang menarik untuk dibedah lebih jauh. Setahu gua ada bebrapa cara. Mohon infonya jika ada cara lain.

Properti - bangunan
Begitu punya uang cukup, beli properti.

Downside

- Masalahnya, barrier of entry untuk bisnis ini minimal 100-200 juta.
Itu juga ngutang ke bank. Coba baca iklan di koran atau di website properti.

- Harga rumah dan apartemen di tengah kota sudah milyaran. Harga properti juga gak selalu naik terutama apartemen.

- Daerah jakarta utara sudah terlalu banyak apartemen. Temen gua di sana beli harga X, kemudian difurnish dan jual lagi. Eh dijual dengan harga X pun (yang artinya rugi di cost furnish), gak laku.

- Aset keras. Tentang kenapa aset keras ini merupakan keburukan, nanti dibahas di bawah,

Upside
- Naiknya lebih besar atau sama dengan inflasi. Ini contoh di atas gua tulis lagi:

Harga apartemen bersubsidi X di sebuah kawasan, akhir 2007 masih 200 juta. Awal 2008, 230 juta. Gila, ganti tahun, 15% naiknya. Ini masih apartemen murahan.

Harga apartemen yang mahalan, tahun 2006 masih 600 juta. Awal 2008, 700 juta. Itu sekitar 9%-10%.

- Properti = aset keras. Keunggulan aset keras adalah kao sampe pemerintah bilang "rupiah tidak berlaku lagi" setidaknya kita masih punya aset untuk dijual.

- Properti bangunan adalah aset keras yang bisa mendatangkan passive income. Simply dari ngontrakin rumah / apartemen itu.

Properti - tanah
Downside
- barrier of entry minimal 100 jutaan.

- tanah makin sedikit, tidak seperti apartemen yang bisa dibeli ke mana-mana.

- pemerintah sedang membuat wacana agar di masa depan, tanah tidak lagi menjadi hak milik tapi hanya hak guna. Masalahnya dengan hak guna adalah, kalo sampe digusur, hak guna menjadi alat pemerintah untuk mebyara ganti rugi minimum. Kalo hak milik, pemerintah bayar lebih tinggi. kalo wacana ini semakin cepat bergulir, maka harga tanah akan naik gila-gilaan. Habis itu harga tanah akan turun. Gak make sense lu beli tanah atas dasar hak guna, kemudian bangun rumah, kemudian digusur dengan ganti rugi minimal.

- aset keras. Satu-satunya keuntungan beli tanah adalah nilainya yang terjaga. Tapi kalo kita butuh duit, dijualnya gak bisa cepet. katakanlah kita beli tanah 300 juta di tahun 2000 dan tahun 2008 sudah 400 juta. Trus ternyata kita butuh banget uang 50 juta. Tanah itu gak bisa nolong kita - dalam artian, demi mendapatkan 50 juta, lu harus menjual tanah itu seharga 400 juta. perkara lu dapet 50 juta, beres. Tapi aset lu kejual dan lu harus nyari tanah lagi. dan di tahun 2008 belum tentu ada tanah strategis yang bisa debeli seharga 350 juta sisanya. bayangin anak kita harus dioperasi gawat dan kita gak bisa jual tanah dengan cepat. Apa yang terjadi? hasilnya adalah kita sering sekali lihat iklan 'dijual cepat, butuh uang'. Kan sayang. Kalo dijual cepat, mau gak mau kita pasang harga murah. Dan yang tadinya niat investasi, jadi hilang.

Upside
- Kecuali kita bener-bener sial, harga tanah gak pernah turun. Dan tidak seperti apartemen yang selalu ada, tanah tidak bertamah. Alias makin lama makin sedikit.

- aset keras - Bukan kertas uang yang setiap saat bisa terancam.

Pasar Modal
Sekarang udah ada yang namanya reksadana. http://priyadi.net dan beberapa blog terkenal lainnya pernah mengupas ini dengan sangat baik. Gua cuman mau ngasih tau risknya aja:

upside
- Secara historis returnnya sangat baik. 20% per tahun.

- Exitnya sangat mudah. Tidak seperti aset-aset keras. Maksudnya exit cepat gini:
katakanlah kita tanam di reksadana 50 juta. jalan beberapa bulan sudah 55 juta. Di saat itu, anak kita sakit dan harus operasi, butuh 40 juta. 40 juta itu bisa ditarik kapan saja.

- Barrier of entry rendah. Ada beberapa bank yang menjalin kerja sama dengan reksadana dan kita dapat ikut berinvestasi dengan dana 2 juta saja.

- Rupiah cost averaging. Nah ini kalo gua salah artiin, mohon dibenerkan ya. Maksudnya gini. Kita kalo beli tanah butuh uang ratusan juta siap. Dengan reksadana, ada yang namanya rupiah cost averaging. Maksudnya, tiap bulan kita bisa transfer 1 juta (atau sekuatnya) ke dalam tabungan reksadana itu. Jadi daripada pusing nyari modal 50 juta untuk ikutan reksadana, 50 juta itu bisa -istilahnya- kita cicil 50 x 1 juta sebulan.

Downside
- dengan return yang tinggi, risknya juga tinggi. Luar biasa tinggi. Investasinya tidak dijamin. Bisa return 20%, bisa rugi 20%. Temen gua masukin dana 50 juta. Jalan beberapa tahun berbuah jadi 240 juta. Kemudian dia cerita temponya reksadana crash dan sisanya tinggal 50 juta. Balik lagi ke saldo awal.

Emas
Ini favorit orang tua dan bahkan generasi kita. Orang tua kita sering beli emas dalam bentuk perhiasan karena mereka sudah menyadari bahwa nilai emas stabil.

upside
- Bisa dibeli dengan jumlah uang kecil, dalam bentuk perhiasan. Tapi nilai jualnya juga rendah karena perhiasan itu seirng dicampur, bukan emas 24 karat.

- Nilainya paling stabil dari semua bentuk investasi yang ada.

- Nilainya tidak pernhah turun drastis seperti dolar.

- Di saat US dollar atau rupiah tidak berlaku, emas adalah bahasa universal yang bisa dijual di mana saja. katakanlah setengah dari dunia ini perang dunia. US dollar tidak berlaku, rupiah tidak berlaku. Kita dipaksa mengungsi ke Irak. Rupiah dan US dollar mungkin diludahin di sana, tap emas? bahasa universal.

Downside
- Membeli emas adalah cara yang baik untuk menjaga nilai uang. Hanya saja tidak berbunga.

- Butuh ilmu dan waktu untuk belajar. Sebaiknya beli emas batangan yang bersertifikat.

Currency Asing - USD
Sekarang udah gak jamannya nabung dalam USD. Euro dan GBP terbukti lebih kuat dari USD. Di Indonesia USD juga lebih banyak menjadi dagangan fisik ketimbang mata uang. Ini wajar mengingat traumanya Indonesia di tahun 1998 dulu.

- Nilai USD lemah ketimbang mata uang lain.

- Karena Amerika sedang perang, nilai tukarnya semakin terjun melemah. Sekilas terlihat baik karena dengan USD menurun, Rupiah menguat. Tapi lihat juga kekuatan USD ke mata uang lain.

Gua mau cerita hal yang menarik tentang USD dan apakah kita mesti menabung dalam USD, just in case kita krismon lagi. Pertanyaan turunan dari sini adalah: Apaah kita akan mengalami krismon seperti tahun 1998?

Jawabannya: tergantung.

Kita lihat dulu kasus 1998. Gua sendiri lupa kenapa logika di belakang kasus 1998. Tapi yang jelas:

1991 Bush perang dengan Irak. Perang ini menyedot USD keluar dari Marik sehingga Amrik terlanda krismon. Ini yang membuat Bush tidak terpilih lagi.

1996-98 adalah era Clinton. nah di sini yang gua lupa. Clinton melakukan sesuatu yang membuat Warga Amrik menikmati ekonomi terbaik dalam 2 dekade, sedangkan di belahan dunia lain, seluruh asia krismon.
Sekarang Bush perang lagi dengan irak. Kali ini kembali membuat Amrik krismon. dalam waktu 5-7 tahun dari sekarang, Amrik bisa jadi ngejahatin negara2 lain lagi untuk memperkuat ekonominya dengan konsekuensi krismon di belahan dunia lain.

2008 ini adalah pemilu US. kalo sampe hilary terpilih, gua bilang, bisa jadi ada kemungkinan asia krisis lagi karena hilary bisa jadi akan melakukan hal yang sama seperti suaminya. After all, kesuksesan presiden adalah dari ekonomi rakyatnya. Walau pun itu membuat orang lain krisis. Apalagi Clinton suami dia. Dia akan tanya "Bill, what would you do?" Dan dari sana, bisa jadi neraka kita terulang lagi.

Apakah jika Mc Cain dan Obama terpilih, pattern yang sama tidak akan terulang? Itu juga tergantung. Entah bagaimana caranya, the next president US harus memperbaiki ekonomi rakyat US yang sudah terpuruk oleh perang irak. Tergantung mereka apakah mereka ingin memulihkan ini dengan cara membuat negara lain rugi (entah gimana logikanya).

Jadi, kembali ke pertanyaan, apakah USD adalah alternatif investasi yang baik? Jawaban gua sih, beli perlu, tapi gak usah kebanyakan. Mungkin sekitar 10% dari semua net wroth kita, dimasukkan dalam bentuk USD. dan ini hanya jika kita memiliki rencana menyekolahkan anak ke LN.

Kesimpulan
Dengan semua resiko yang ada di atas, apakah investasi yang baik?

Gua bilang sih semuanya. Diversifikasi. Trik yang kebayang sama gua adalah (dan ini belum gua lakukan ya, cuman yang kebayang aja sama gua)
1. kalo kita punya uang 50 juta, masukkan itu ke dalam investasi yang paling cepat berbuah, meski itu beresiko (reksadana). Katakanlah berbuah menjadi total 100 juta.

2. Dari 100 juta itu, tarik 50 juta modal awal kita keluar dari reksadana dan belikan rumah kontrakan. Dari rumah kontrakan ini bisa berbuah uang.

3. Sekarang kita punya income dari poin 1 dan 2. Setelah cukup, investasikan ke mungkin tanah, atau emas batangan secukupnya.

4. Lakukan poin 3 dengan fondasi poin 1 dan 2 seterusnya.

Nah ini adalah bayangan dan analisis gua yang cuman lulusan S1.

Selanjutnya terserah masing-masing.

Yang jelas, sesuai judul posting gua, pegangan gua adalah satu:

Gua udah capek-capek kerja keras. Alangkah sayangnya kalo gua gak berpikir pintar untuk menyelamatkan uang dari hasil kerja keras itu.

Rgds.

Labels: ,





zaralde.com
Wednesday, February 13, 2008

Surprisingly, online baby clothing store kami http://zaralde.com banyak pembelinya. Makasih bagi yang udah jadi pelanggan dan bagi yang belum, gak rugi untuk sekedar kunjungi!

Klik di sini untuk lihat satisfied little customers.

Cocok untuk anak,
Pas untuk ponakan,
Ampuh untuk ponakan kecengan!

Rgds.

Labels:






About This Strikingly Handsome Writer:


Adhitya Mulya adalah Dewa Ganteng yang tinggal di kahyangan bersama 100 dayang-dayang. Dia menghabiskan waktunya turun ke bumi untuk bertemu dengan rakyat jelata dan berburu menjangan dan babi hutan... (or is it, berburu rakyat jelata dan bertemu dengan babi hutan? anyways, same thing). Oh ya, sesekali dia menulis buku komedi.

Contact:

adhitya_mulya@hotmail.com

10 Recent Entries

  • Poligami Lagi
  • Aldebaran 19 months
  • Loosing My Mojo
  • Sekuel Jomblo
  • Membeli Masa Depan
  • Getting Smart on Money
  • zaralde.com
  • Impian
  • Empat Tahun
  • Sakit dan Sembuh

  • orang telah melihat kegantengan gua yang legendaris itu.
    Enter your email address below to subscribe to Suami Gila!


    powered by Bloglet




    Get Firefox!

    Pictures




    Links

    Ninit ; Aan ; Agung ; Aip ; Alaya ; Avianto ; Aris ; Atta ; Detta ; Ewink ; Enda ; Erly ; Fairy ; Fanny ; Ganda ; Hagi ; Hanzky ; Isman ; Ita Leyla ; Ni'ang ; Ndari ; Nita ; Pip ; Okke ; Roi ; Ruri ; Shinta ; Tyaz ; Udhien ; Umar; Adi ; Afo ; Alaya ; Alfa ; Ale ; Alvons ; Aiff ; Andhi ; Andin ; Andin ; Anggie ; Anto ; Aprian ; arb3i ; Ari ; Arma ; Arif ; Ayu ; Axlandra ; Bantot ; Be-Es ; Beranda ; Bintang ; Bios ; Blub ; Brandy ; Buzz ; Cay ; CB ; Celia ; C'est la Vie ; Civent ; Claustrophobic ; Comel ; Comel ; Crey ; Dagungsta ; Dayat ; Deksay ; Dian ; Dican ; Didi ; Didiet ; Diki ; Dini ; Dion ; Disposable Hero ; Drey ; Duwie ; Dwi ; Dyah ; Ekodox ; Emil ; Ephe ; Eric ; Erika ; Erwin ; Eve ; Eyi ; Farid N ; Farid ; Finalizabeth ; Fitri ; Flow ; Flow ; Fresh ; Gajah Duduk ; Gauz ; goblog ; grE3nY' PrinceZz ; Guido ; Grizz ; Harris ; Harris ; Harris ; Heri ; Herlyanti ; Hero ; Ibiza ; Ika ; Ilsa ; Inex ; Inna ; Ipan ; Irene ; Irene ; Iris ; Isnaini ; Koebiz ; Kun ; Lacsar ; Lemans ; Lilik ; Lindie ; Little Mermaid ; Lontar ; Matz ; Memey ; Merkurius ; Morningdew ; N[a] ; Nasgor ; Neen ; Neenoy ; Nice green ; Nisa ; Nita+Agus ; Nono ; Novie ; Nukov ; Nunik ; Ochan ; Ollie ; Paylo ; Pipit ; Prazz ; Prianca ; QQ ; Radith ; Rapa ; Reena ; Ren ; Ria ; Richoz ; Ridwan Fauzi ; Rihsa ; Riena ; Rita ; Sapi ; Sasha ; Sazi ; Seggaf ; ; ; ; Snydez ; StormyMonday ; Supta ; Sweeney ; Sylvie ; Tamtam ; Tari ; Toet ; Trippin' D ; Tutup Botol ; t.w. ; Ty ; Tyaz ; Tychan ; Umar ; Un^Goe ; Vanda ; Vanya ; Viga ; Vellas ; Weedee ; Yudha ; visit rice bowl journals !